KARYA TULIS

KARYA ILMIAH : PEMBELAJARAN KELOMPOK


KARYA ILMIAH

STRATEGI MENGAJAR PENDEKATAN KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN JIWA KORSA

 PADA SISWA SEKOLAH DASAR

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 1.      Latar Belakang Masalah

 

Dalam dunia pendidikan sering kita mendengar berbagai macam metode, media, model dan cara mengajar. Antara guru satu dengan yang lain sangat berbeda tetapi memiliki tujuan sama yaitu ingin membuat siswanya paham akan pembelajaran yang diberikan. Sebagian guru mungkin tidak hanya ingin membuat siswanya sekedar paham dan mendapatkan nilai yang baik, disini guru juga ingin membuat siswanya aktif dalam belajar dan pandai bersosialaisasi dengan lingkungan.  Untuk tujuan yang terakhir dirasa lebih penting karena hal tersebut menjadi modal siswa untuk melanjutkan kariernya dalam dunia pekerjaan maupun kemasyarakatan. Oleh karena itu, para guru seperti penulis berusaha untuk menghasilkan sebuah cara yang dapat membuat siswa lebih aktif dan juga memiliki jiwa sosial tinggi.

Sementara ini kebanyakan guru masih mengandalkan metode klasikal atau biasa disebut ceramah dalam pembelajaran yang sajikannya setiap hari. Istilah klasikal ( Erman, dkk. 2001) bisa diartikan sebagai secara klasik yang menyatakan bahwa kondisi yang sudah lama terjadi, bisa juga diartikan sebagai bersifat kelas. Jadi  pembelajaran klasikal berarti pembelajaran konvensional yang biasa dilakukan di kelas selama ini, yaitu pembelajaran yang memandang siswa berkemampuan tidak berbeda sehingga mereka mendapat pelajaran secara bersama, dengan cara yang sama dalam satu kelas sekaligus. Model yang digunakan adalah pembelajaran langsung (direct learning). Hampir setiap mata pelajaran pasti dapat menggunakan  metode ini. Hanya saja karena metode terlalu terpusat kepada guru maka dari itu kemampuan kognitif dan sosial siswapun kurang terasah dengan baik. Karena siswa cenderung mendengarkan dan mendengarkan pada akhirnya mereka dapat mencapai titik kebosanan. Dengan kondisi seperti ini, kondisi belajar siswa secara individual baik menyangkut kecepatan belajar, kesulitan belajar dan minat belajar sukar untuk diperhatikan oleh guru. Pada umumnya cara guru dalam menentukan kecepatan menyajikan dan tingkat kesukaran materi kepada siswanya berdasarkan pada informasi kemampuan siswa secara umum. Guru tampaknya sangat mendominasi dalam menentukan semua kegiatan pembelajaran.

Agar pembelajaran tidak didominasi oleh guru maka metode pembelajaran yang lain bisa kita coba. Pembelajaran kelompok da

pat kita jadikan alternatif untuk mendapatkan proses dan hasil pembelajaran yang lebih baik. Dalam model pembelajaran ini sangat penting untuk memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan bekerjasama dalam kelompok. Lebih penting pembelajaran kelompok juga dapat menumbuhkan rasa sosial dan kebersamaan atau biasa disebut juga dengan jiwa korsa. Hal tersebut sangatlah penting agar kita selaku pendidik tidak hanya mengajar tetapi  juga mendidik siswa agar menjadi pribadi yang baik. Oleh karena itu penulis sengaja akan membahas tentang cara meningkatkan keaktifan dan jiwa korsa dengan pembelajaran kelompok pada siswa sekolah dasar.

Berdasarkan alasan di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk lebih meningkatkan keaktifan dan jiwa korsa pada siswa. Hal ini dapat diwujudkan karena guru telah dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan cara bermain sambil belajar. Guru akan mengemas pembelajaran tersebut dalam bentuk active learning dan kelompok belajar. Dalam pembelajaran ini siswa tidak akan mengenal kata berhenti untuk bergerak karena siswa akan selalu bergerak dan bekerjasama

Tidak dapat dipungkiri bila terdapat anak didik yang merasa bosan dan lelah tetapi di sini guru dapat memotivasiny

a dengan menggunakan metode-metode yang telah dikuasai dan menggunakan media-media pembelajaran yang berhubungan dengan materi tersebut.

2.      Identifikasi Masalah

Perencanaan pada hakikatnya adalah suatu bentuk rancangan pemecahan masalah. Oleh sebab itu langkah awal dalam perencanaan pembelajaran adalah mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran. Sumber masalah pembelajaran siswa dapat diperoleh dari berbagai cara antara lain :

  1. Pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti sehari-hari
  2. Observasi dan wawancara kepada guru lain
  3. Karya ilimiah lain yang membahas topik yang relevan

Berdasarkan latar belakang di atas, terlihat masalah yang dialami oleh guru yakni kesulitan dalam menciptakan metode pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif dan mempunyai jiwa korsa atau kebersamaan.

3.      Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang ditetapkan di atas, selanjutnya perumusan masalah dalam penelitian ini diajukan sebagai pertanyaan sebagai berikut :

  1. Apakah penerapan pembelajaran kelompok dapat meningkatkan keaktifan siswa sekolah dasar ?
  2. Apakah penerapan pembelajaran kelompok dapat meningkatkan jiwa korsa (kebersamaan) siswa sekolah dasar

4.      Tujuan Penelitian
Tujuan Umum

1)        Untuk memperbaiki proses pembelajaran dalam upaya peningkatan keaktifan dan jiwa korsa melalui pembelajaran kelompok.

2)        Untuk memenuhi tugas lomba penulisan karya ilmiah dalam rangka HARDIKNAS tahun 2012 tingkat Kabupaten Purbalingga.

Tujuan Khusus

1)        Mendeskripsaikan penerapan pembelajaran kelompok pada peningkatan keaktifan dan jiwa korsa siswa sekolah dasar

2)        Meningkatkan keaktifan siswa sekolah dasar melalui pembelajaran kelompok

3)        Meningkatkan jiwa korsa siswa sekolah dasar melalui pembelajaran kelompok.

5.      Manfaat Penelitian

Hasil dari tulisan ini akan memberikan manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya adalah :

  1. Bagi Siswa

Hasil tulisan ini akan sangat bermanfaat bagi siswa, untuk lebih meningkatkan keaktifan dan jiwa korsa. Yang pada akhirnya, hasil belajar siswa akan meningkat.

  1. Bagi Guru

Keprofesionalan guru saat ini sangat dituntut dari berbagai segi, terutama dalam pemecahan masalah yang ada di kelasnya. Dengan tulisan ini, pengetahuan guru akan semakin bertambah dalam penerapan pembelajaran atau metode-metode yang bervariasi. Serta guru dapat menyadari bahwa, proses pembelajaran yang monoton akan mengakibatkan kejenuhan pada siswa. Guru dapat memperbaiki proses pembelajaran di kelasnya, ,agar hasil pembelajaran lebih bermutu.

  1. Bagi Sekolah

Tulisan ini, akan memberikan sumbangsih pada sekolah berupa prestasi dan sikap attau perilaku siswa yang lebih baik.

BAB II

 1.      Kajian Teori

Tahapan-tahapan dalam proses mengajar siswa dalam kelompok memiliki hubungan erat dengan penggunaan strategi mengajar. Maksudnya ialah bahwa setiap penggunaan strategi mengajar harus selalu merupakan rangkaian yang utuh dalam tahapan-tahapan mengajar.  Menurut Suwarna dkk. (2005) pembelajaran kelompok perlu memperhatikan beberapa komponen di ataranya adalah:

  1. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan  pembelajaran kelompok dengan mendiagnosis kemampuan akademik siswa, gaya belajar siswa, kecenderungan minat dan kedisiplinan siswa.
  2. Keterampilan mengorganisasikan kegiatan  belajar kelompok  karena guru bertindak sebagai organisatoris dengan mengatur dan memonitoring aktivitas belajar siswa.
  3. Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar bagi siswa dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat belajar sendiri sehingga guru harus mampu dan terampil membantu siswa untuk mudah belajar.

. Agar sebuah kelompok dapat memenuhi star tersebut di atas, maka Mansur (2004), mengemukakan beberapa pedoman dalam membentuk kelompok di ataranya adalah bahwa dalam pembentukan kelompok siswa terdiri dari 5-7 orang dalam 1 kelompok serta didasarkan pada minat dan kecenderunganmasing-masing siswa. Kedua aspek tersebut harus menjadi pertimbangan guru dalam membentuk kelompok belajar bagi siswa agar guru dapat dengan mudah membina dan mengembangkan belajar kelompok dalam pembelajaran yang dilaksanakannya.

Beberapa Tahap pembelajaran Kelompok

Model dan langkah-langkah pembinaan dan pengembangan belajar kelompok dalam kelas di ataranya adalah pada tahap pelaksanaan diawali dengan pertemuan klasikal untuk memeberi informasi umum kepada siswa, kemudian guru mempersilahkanmasing-masing kelompok untuk melaksanakan tugas masing-masing, kemudian guru melakukan evaluasi dan supervisi untuk mengikuti proses perkembangan pembelajaran dalam kelompok. Secara umum tahapan pengajaran dengan pendekatan kelompok melalui tiga tahapan yaitu tahap prainstruksional, instruksional, evaluasi dan tidak lanjut.

2.      Kerangka Berfikir

Pengertian Strategi Mengajar tidak dapat dipisahkan dari pengertian pendidikan secara umum, karena terkait dengan bagaimana sebuah strategi digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. akan tetapi Secara harfiah, kata “strategi” menurut McLeod, (1989) (dalam  Dimyati dan Mudjiono, 2006) dapat diartikan sebagai seni (art) melaksanakan strategi yakni siasat atau rencana. Banyak padanan kata “strategi” dalam bahasa Inggris, dan yang dianggap relevan dengan pembahasan  ini ialah kata approach (pendekatan) dan kata procedure (tahapan kegiatan). Dalam perspektif psikologi, kata strategi menurut Reber, (1988) (dalam  Dimyati dan Mudjiono, 2006)  berasal dari bahasa Yunani itu, berarti rencana tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan. Seorang pakar psikologi pendidikan Australia, Michael J. Lawson (1991) (dalam  Dimyati dan Mudjiono, 2006) mengartikan strategi sebagai prosedur mental yang berbentuk tatanan langkah yang menggunakan upaya ranah cipta untuk mencapai tujuan tertentu.

Selanjutnya, berdasarkan pertimbangan arti-arti tersebut di atas, maka strategi mengajar (teaching strategy) dapat penyusun definisikan sebagai sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Sebuah strategi mengajar dapat  berlaku umum bagi semua guru bidang studi selama orientasi sasarannya sama.

Pembelajaran dengan pendekatan kelompok diartikan sebagai pembelajaran yang dilaksanakan dengan membagi-bagi siswa menjadi beberapa kelompok besar atau kecil (tergantung jumlah siswa) yang bekerjasama untuk mencapai sasaran dan memaksimalkan proses belajar saru sama lain.

Menurut pandangan psikologi anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan pada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak mengalami sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari dirinya sendiri, guru hanya sebagai pembimbing dan pengarah. Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak hanya menyimpan saja tanpa mengadakan tansformasi. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya.

Dalam setiap pendidikan dan latihan yg diikuti militer maupun paramiliter selalu ditekankan pentingnya “JIWA KORSA” bagi setiap serdik (peserta didik). Yang dimaksud Jiwa Korsa disini ialah kebersamaan, kekompakan dan saling menghormati.  Kekompakan dan kebersamaan ini sangatlah penting utk mendapatkan kondisi siswa yang “seirama.  Intinya setiap keberhasilan pribadi tdk dilihat sbg suatu prestasi kalau secara team tdk berhasil seluruhnya. Sbg contoh : misal dlm 1 regu hanya ada 1 anggota yg bisa menguasai bab pecaan dalam mapel Matematika sedang yg lain tidak maka regu tersebut dinilai gagal jadi intinya  semua anggota hrs bisa menguasainya. Dari penjelasan tersebut cukup jelas antara hubungan jiwa korsa dengan pembelajaran kelompok.

3.      Hipotesis

Berdasarkan kajian teori di atas, maka penulis dapat merumuskan hipotesis sebagai berikut :

  1. Dengan penerapan srategi mengajar kelompok dapat meningkatkan keaktifan pada siswa sekolah dasar.
  2. Dengan penerapan strategi mengajar kelompok dapat meningkatkan jiwa korsa pada siswa sekolah dasar.

BAB III

PEMBAHASAN MASALAH

 1.        Metode Klasikal

Seperti yang tertera pada judul penulis akan memberikan berbagai ulasan tentang strategi pembelajaran kelompok yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran serta tumbuhnya kebersamaan dan jiwa korsa pada setiap diri siswa.

Awal pembelajaran, penulis menggunakan strategi pembelajaran klasikal atau ceramah untuk menjelaskan suatu mata pelajaran. klasikal merupakan kemampuan pembelajar yang utama. Hal itu disebabkan oleh pembelajaran klasikal merupakan kegiatan mengajar yang tergolong efisien. Secara ekonomis, pembiayaan kelas studi lebih murah.
Pembelajaran klasikal merupakan kemampuan pembelajar yang utama. Hal itu disebabkan oleh pembelajaran klasikal merupakan kegiatan mengajar yang tergolong efisien. Secara ekonomis, pembiayaan kelas studi lebih murah. Oleh karena itu, ada jumlah minimum siswa dalam kelas. Jumlah siswa tiap kelas pada umumnya berkisar dari 10 45 orang. Dengan jumlah tersebut seorang guru masih dapat membelajarkan siswa secara klasikal. Pembelajaran klasikal berarti melaksanakan dua kegiatan sekaligus, yaitu pengelolaan kelas dan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. seasana senang dalam belajar. Pemusatan perhatian pada bahan ajar. Setelah melaksanakan metode klasikal, ternyata penulis mendapatkan beberapa kelemahan yaitu :

  1. Guru terlalu mendominasi pembelajaran
  2. Siswa cenderung pasif dalam menerima pembelajaran
  3. Setelah waktu berjalan, banyak siswa yang mulai terlihat ngantuk dan seperti enggan mengikuti pembelajaran.
  4. Siswa banyak yang keluar kelas dengan alasan ingin ke belakang. Hal tersebut terjadi kepada sebagian besar siswa.
  5. Jika metode ini tidak diselingi dengan tanya jawab ataupun kuis sudah dipastikan pembelajaran ini dapat dianggap pembelajaran yang sangat membosankan bagi siswa dan juga bagi guru sendiri.
  6. Setelah dievaluasi, hanya sedikit siswa yang mendapatkan hasil memuaskan.
  7. Jarang terlihat aktifitas antar siswa yang terjadi dalam pembelajaran, sehingga tidaj terjadi saling sharing atau mengemukakan pendapat. Karena hal tersebut akan membuat guru marah karena dianggap tidak memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung.

Kelemahan di atas kami tulis karena penulis menyadari dan  mengalaminya jika menggunakan peembelajaran klasikal. Pembelajaran ini biasa dilakukan oleh guru jika kurang memiliki persiapan, sebagai contoh bukti adalah guru tidak tahu hari ini akan pelajaran apa dan malah bertanya kepada siswa. Hasil pembelajarannyapun pastilah kurang memuaskan.

2.      Strategi Mengajar Kelompok

Untuk mengatasi hal tersebut di atas. Penulis berusaha meningkatkan keaktifan dan jiwa korsa atau kebersamaan melalaui strategi pembelajaran kelompok. Beberapa ciri pembelajaran dengan pendekatan kelompok adalah (1) siswa memiliki keanggotaan jelas, (2) terdapat kesadaran kelompok, (3) memiliki tujuan bersama, (4) saling tergantung dan memiliki kebutuhan yang sama, (5) ada interaksi dan komunikasi antar anggota, serta (6) ada tindakan yang dilakukan secara bersama-sama. Keenam ciri tersebut menjadi ciri kelompok yang kohesif dan dapat menjadi jaminan keberhasilan kelompok dalam mencapai tujuan pembelajaran  yang telah ditetapkan oleh guru. Secara umum tahapan pengajaran dengan pendekatan kelompok melalui tiga tahapan yaitu tahap prainstruksional, instruksional, evaluasi dan tidak lanjut.

a.    Tahap Prainstruksional

Tahap  prainstruksional yaitu persiapan sebelum mengajar dimulai. Tahap prainstruksional adalah langkah persiapan yang ditempuh guru pada saat mulai memasuki kelas hendak mengajar. Pada tahap ini guru dianjurkan memeriksa kehadiran siswa, kondisi kelas, dan kondisi peralatan yang tersedia dengan alokasi waktu yang singkat. Sesuai kegiatan yang singkat tadi, guru perlu melakukan “pemanasan” dengan menanyakan perihal materi yang disajikan sebelumnya, serta materi yang akan diajarkan (pre-test). Kemudian, guru melakukan kegiatan apersepsi (apperception) dengan mengungkapkan kembali  secara sekilas materi yang diajarkan sebelumnya lalu menghubungkan dengan materi pelajaran yang akan segera diajarkan. Kegiatan ini penting, sebab kegiatan belajar dan memahami materi pelajaran itu kebanyakannya bergantung pada pengenalan siswa terhadap hubungan antar pengetahuan yang telah ia miliki dengan pengetahuanyang akan diajarkan.

b.      Tahap Instruksional

Tahap instsruksional adalah tahap inti dalam proses pengajaran. Pada tahap ini guru menyajikan materi pelajaran (pokok bahasan) yang disusun lengkap dengan persiapan model, metode dan strategi mengajar yang dianggap cocok. Jika guru menggunakan metode ceramah atau metode ceramah plus, maka pada tahap pelaksanaan pengajaran ini, ia sangat dianjurkan menjelaskan pokok-pokok materi dan tujuan-tujuannya baik kompotensi dasar, standar kompotensi dan indikator yang harus dicapai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sebelum menguraikan pokok-pokok materi tersebut lebih lanjut, setiap uraian seyogyanya dilengkapi dengan contoh dan peragaan seperlunya. Dalam tahap ini guru juga harus sudah mendapatkan kelompok-kelompok siswa, kelomok siswa dapat dibagi berdasarkan beberapa kriteria. Sebagi contoh, tempat tinggal dan hasil belajar. Pada pembentukan kelompok penulis menyarankan membentuk kelompok menjadi dua jenis yaitu kelompok belajar rumah dan kelompok belajar sekolah.

1)             Kelompok   Rumah

Kelompok belajar ini dibuat dengan tujuan agar siswa mempunyai kelompok belajar yang jarak tempat tinggal antar siswanya relatif dekat sehingga pembelajaran dapat dilakukan sewaktu-waktu bergantian di rumah masing-masing anggota kelompok.

2)          Kelompok Sekolah

Kelompok belajar ini hanya berlaku di sekolah saat guru memberikan tugas kelompok yang harus dikerjakan di sekolah. Kelompok ini dibentuk dari peringkat kelas agar setiap kelompok mempunyai kemampuan yang sama dan tidak didominasi oleh satu kelompok saja. Dalam satu tahun kelompok sekolah dapat dibentuk 4 kali. Pertama, awal masuk kelas. Kedua, setelah ulangan tengah semester 1. Ketiga, awal masuk semester 2. Keempat, setelah ulangan tengah semester 2. Hal tersebut dilaksanakan agar siswa tidak terlalu banyak mengalami pergantian kelompok yang dapat menyebabkan siswa kekurangan waktu untuk bersosialisasi dengan yag lain. Selain itu pengelompokkan ini bertujuan agar siswa mempunyai keakraban dalam lingkup kelas dan tidak terjadi GAP atau pengelompokkan antar siswa dalam satu kelas yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Waktu 3 bulanpun dirasa cukup untuk membangun kerjasama dan kebersamaan antar anggota kelompok. Pemantauan dan pembinaan guru mutlak harus dilaksanakann agar kelompok-kelompok tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Berikut cara pengelompokkan berdasarkan kriteria peringkat kelas :

R

Grup

R

Grup

R

Grup

R

Grup

R

Grup

1

A

6

E

11

A

16

E

21

A

2

B

7

D

12

B

17

D

22

B

3

C

8

C

13

C

18

C

23

C

4

D

9

B

14

D

19

B

24

D

5

E

10

A

15

E

20

A

Pembagian di atas adalah pembagian kelompok/grup kelas berdasarkan peringkat yang ada di kelas. Pembagian tersebut dilakukan selama 4 kali dengan cara yang telah disebutkan di atas. Kelompok dibagi menjadi 5 bagian. Kelompok A terdiri dari peringkat 1,10,11,20,dan21. Kelompok B terdiri atas peringkat 2,9,12,19,dan 22. Kelompok C terdiri atas peringkat 3,8,13,18,dan 23. Kelompok D terdiri atas peringkat 4,7,14,17,24. Kelompok E terdiri atas peringkat 5,6,15,16. Adapun untuk kelompok E yang jumlahnya hanya 4 tidak menjadi masalah karena memang jumlah siswanya 24. Jika pengelompokkan akan dibuat adil mungkin dapat dibuat menjadi 6 kelompok. Dalam pembagian kelompok perlu memperhatikan jumlah anggota. Jangan sampai jumlah angggota kelompok tersebut terlalu banyak karena dapat menyebabkan kerja kelompok tidak berjalan sesuai harapan.

3)      Kelompok Sekolah Sementara

Kelompok ini dibentuk di sekolah. Perbedaannya dengan kelompok sekolah adalah jangka waktunya. Kelompok sekolah dibentuk selama 3 bulan sedangkan kelompok sementara hanya dibuat selama 1 hari itu saja hanya untuk salah satu mata pelajaran. Kelompok ini dibuat untuk menambah variasi dan suasana baru dalam pembelajaran. Jumlah anggota dan kriteria pengelompokannyapun tidak tetap. Berikut beberapa kiteria dalam pemilihan kelompok sekolah sementara:

a)      Kelompok absen

b)      Kelompok Piket

c)      Kelompok tempat duduk

d)     Dll

Anggota dapat bervariasi dengan jumlah minimal 2.

Pembentukan kelompok yang bervariasi akan menimbulkan efek positif serta negatif. Disinilah peran guru sebagai motivator, fasilitator untuk meminimalisir efef negative tersebut. Agar lebih menarik pembelajaran kelompok dapat ditambah dengan berbagai macam media dan model pembelajaran lainnya seperti Examples Non Examples, Picture and Picture, Jigsaw, STAD, TAI, CTL,NHT, Make a Match, Mind Mapping dan sebagainya. Hal tersebut akan membuat pembelajaran semakin menarik dan dijamin siswa akan selalu aktif karena tumbuhnya iklim kompetisi (selalu merasa tertantang untuk membuat kelompoknya menjadi yang terbaik). Hubungan antar siswa satu kelompok akan meningkat dan tumbuh jiwa korsa atau kebersamaan. Kebersamaan agar kelompok mereka menjadi yang terbaik dan saling tolong menolong agar semua anggota dapat menguasai tugas yang diberikan oleh guru.

c.       Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi yang akan diuraikan pada pembahasan ini adalah tahap-tahap evaluasi pada evaluais formatif. Untuk tahap-tahap evaluasi sumatif tidak diuraikan karena evaluasi tersebut merupakan bentuk final dari pelaksanaan evaluasi formartif. Berikut ini tahap-tahap evaluasi formatif menurut sadiman (1986:185-190).

1)      Evaluasi Individu

Evaluasi ini dilakukan guru kepada masing-masing siswa. Evaluasi ini menguji kerja kelompok tersebut sudah berjalan sebagaimana mestinya ataukah belum.

2)      Evaluasi Satu lawan Satu

Evaluasi ini dilakukan dengan memilih siswa secara berkelompok (2 anak atau lebih). Dua orang siswa tersebut diambil dari keadaan yang berbeda, yaitu satu siswa mempunyai kemampuan di atas rata-rata, sedangkan siswa yang lainnya berkemampuan di bawah rata-rata. Pembedaan ini dimaksudkan untuk mengetahui efek penggunaan pembelajaran berkelompok yang dibuat terhadap kemampuan siswa yang berbeda-beda.

3)      Evaluasi kelompok Kecil

Evaluasi ini dilakukan secara berkelompok dengan jumlah anggota sekitar 4-6 anak. Evaluasi ini juga bisa diarahkan menjadi sebuah kuis. Kuis ini akan membuat setiap kelompok (A-E) saling bersaing untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Kelompok terbaik bisa kita  berikan hadiah sedangkan kelompok terburuk dapat kita berikan hukuman. Tentu saja hukuman yang mendidi

TERIMA KASIH DAN MAAF

 

 

About these ads

About wildanrahmatullah

Seorang guru sekolah dasar yang masih mencoba mencari hakikat dari mengajar dan mendidik yang sebenarnya

Diskusi

Belum ada komentar.

Silakan tulis apa yang anda pikirkan setelah membaca artikel kami

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.251 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: