CERITA PENDIDKAN

Kuliah Gratis di Univeritas Luar Negeri


Ketika Massachusetts Institute of Technology (MIT) menawarkan kursus gratis daring (online) pertamanya musim semi lalu, Ashwith Rego langsung mendaftar untuk dapat belajar dari beberapa peneliti papan atas dunia tanpa harus meninggalkan rumahnya di India.

“Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya bisa diajar oleh profesor-profesor dari MIT, apalagi secara gratis,” ujar insinyur berusia 24 tahun yang bekerja di Bangalore tersebut.

Dari Harvard sampai Stanford, semakin banyak universitas elit yang membuka pintu digital mereka untuk publik. Mereka menawarkan kursus-kursus paling populer di dunia maya tanpa bayaran, sehingga siapapun dengan koneksi Internet dapat belajar dari para akademisi dan ilmuwan ternama.

Banyak universitas telah menawarkan kursus di dunia maya selama bertahun-tahun, namun partisipasi dari universitas riset papan atas menandai tonggak bersejarah yang besar dalam pengembangan pembelajaran digital.

Pengembangan kursus di Internet yang masif (massive open online courses, MOOC) memiliki potensi untuk mentransformasi pendidikan tinggi pada masa di mana universitas menghadapi anggaran yang menurun, biaya yang meningkat dan protes akan uang kuliah dan utang mahasiswa yang melambung.

Para pendukung sistem ini mengatakan bahwa kursus daring dapat mengurangi biaya pengajar, meingkatkan pembelajaran di kampus dan dunia maya, dan secara signifikan memperluas akses terhadap pendidikan tinggi, yang dapat mendorong inovasi teknologi dan pertumbuhan ekonomi.

“Sistem ini berpotensi melayani ratusan ribu mahasiswa dengan cara yang tidak bisa kita lakukan saat ini,” ujar Molly Corbett Broad, presiden Dewan Pendidikan Amerika.

Bulan lalu, selusin universitas riset utama mengumumkan bahwa mereka akan mulai membuka kursus lewat sarana pembelajaran bernama Coursera, bergabung bersama Universitas Stanford, Princeton, Pennsylvania dan Virginia.

Pihak University of California di Berkeley mengatakan bahwa kursus daring akan tersebdia musim gugur ini melalui edX, portal Web yang diluncurkan Mei lalu oleh Harvard University dan MIT dengan biaya US$60 juta dari kedua sekolah tersebut.

“Saya yakin pada akhirnya ini akan merevolusi pendidikan,” ujar kanselir UC Berkeley Robert Birgeneau.

Sejauh ini para mahasiswa tidak dapat menggunakan kursus tersebut untuk menambah kredit kuliah, namun hal itu tidak menurunkan permintaan.

​​Pengelola edX mengatakan bahwa 154.000 mahasiswa dari lebih dari 160 negara telah mendaftar untuk kursus daring MIT pertama bertema “Sirkuit dan Elektronik” musim semi lalu. Hanya sekitar 17.000 mahasiswa yang lulus kursus tersebut, namun jumlah tersebut masih jauh lebih banyak daripada jumlah yang dapat memenuhi ruang kuliah.

Lebih dari 120 universitas telah memperlihatkan ketertarikannya untuk bergabung dalam konsorsium tersebut, ujar presiden edX Anant Agarwal, yang mengepalai Laboratorium Sains Komputer dan Inteligensia Buatan di MIT.

“Tujuan kami adalah untuk menciptakan kembali sistem pendidikan,” ujar Agarwal, yang menciptakan kursus MIT pertama. “Hal ini akan secara dramatis meningkatkan kualitas, efisiensi dan skala pembelajaran di seluruh dunia dan di kampus-kampus kami.”

Sejauh ini, kursus-kursus daring yang baru menarik lebih banyak pekerja yang ingin meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka, namun tidak memiliki waktu dan uang untuk kuliah di kampus.

Generasi baru kursus daring ini menampilkan teknologi interaktif, pendaftaran terbuka, kurikulum kaliber tinggi dan kemampuan untuk mengajar puluhan ribu mahasiswa sekaligus. Pihak dari universitas-universitas tersebut mengatakan bahwa kursus di dunia maya sama ketatnya dengan kursus di kampus.

Para mahasiswa di Harvard University, salah satu pencipta sarana pembelajaran di Internet. (Foto: Reuters)

Beberapa universitas, termasuk University of Washington dan University of Helsinki, mengatakan mereka akan menawarkan kredit kuliah untuk kursus-kursus di Coursera.
Jika lebih banyak lagi perguruan tinggi yang mengikuti langkah mereka, pembelajaran daraing akan memungkinkan lebih banyak mahasiswa untuk masuk kuliah dan lulus dengan cepat, kata para ahli.

Disamping potensi penghematan biaya, generasi baru kursus daring ini dapat mengubah bagaimana mahasiswa belajar di kampus dengan membebaskan profesor dari tugas memberi kuliah dan memberikan mereka lebih banyak waktu untuk riset dan diskusi dengan para mahasiswa.

“Hal ini akan mentransformasi kerja para profesor,” ujar William Tierney, ahli pendidikan tinggi dari University of Southern California.

Namun masih banyak pertanyaan yang tertinggal. Apakah kursus-kursus tersebut cukup ketat untuk dapat menjustifikasi kredit kuliah? Bagaimana cara mencegah kecurangan? Dapatkah para universitas meminta biaya kuliah ribuan dolar jika mahasiswa dapat mengambil kuliah secara gratis di dunia maya?

Beberapa pendidik mengatakan bahwa kursus Internet ini tidak dapat menggantikan komunitas akademia dan pengalaman belajar di kampus tradisional.

Tapi yang lain memperingatkan bahwa MOOC memiliki potensi untuk merongrong keuangan universitas, seperti halnya konten gratis di Internet telah mengancam surat kabar, majalah dan industri lainnya.

Jika mahasiswa bisa mendapatkan materi akademis kualitas tinggi secara gratis, universitas akan dipaksa mendemonstrasikan nilai pendidikan yang mereka tawarkan selain kuliah dan ujian.

“Saya kira kita tidak bisa mengabaikan hal ini,” ujar Tierney. “Orang-orang mengira apa yang terjadi dengan industri surat kabar tidak akan terjadi pada dunia akademia.”

Sekali muncul dan berkembang, banyak kursus hampir dapat berjalan dengan sendirinya. Mereka umumnya menampilkan video pendek berisikan kuliah yang diikuti kuis yang menguji mahasiswa mengenai konsep-konsep yang baru saja mereka pelajari. Sebagian besar ujian matematika dan sains dapat dinilai oleh komputer, sementara peserta kursus ilmu humaniora saling mengevaluasi tugas makalah masing-masing.

Kursus-kursus yang berjalan dengan jadwal yang telah ditentukan berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa bulan, jadi para mahasiswa dapat membentuk kelompok diskusi dan membantu satu sama lain dengan pekerjaan rumah.

“Ada komunitas mahasiswa yang sangat aktif di Internet,” ujar George Skelly, pengacara asal Boston yang mengambil kursus elektronik MIT musim semi tahun ini. “Saya seperti memiliki ribuan asisten profesor yang siap setiap saat.“

Tahun ini, beberapa sarana muncul di Internet dan menarik universitas-universitas elit yang sangat ingin mengembangkan program pembelajaran digital mereka.

Coursera dibuat oleh Andrew Ng dan Daphne Koller, dua profesor dari Stanford yang mulai menciptakan sarana tersebut setelah mengajar kursus sains komputer di Internet yang menarik lebih dari 100.000 mahasiswa musim gugur lalu.

Musim gugur kali ini, Coursera akan menawarkan 116 kursus dari 16 universitas untuk disiplin ilmu seperti kedokteran, filsafat dan inteligensia buatan. Sejauh ini, sekitar 900.000 mahasiswa telah mendaftar.

Startup berbasis Mountain View tersebut telah mengumpulkan dana $16 juta dari perusahaan permodalan usaha dari Silicon Valley dan $3,7 juta dari California Institute of Technology dan University of Pennsylvania.

Meski Coursera adalah usaha untuk mencari untung, perusahaan tersebut berkomitmen untuk tetap menyediakan kursus secara gratis, ujar Ng.

“Jika seorang anak di India tidak dapat kuliah, hal itu merupakan tragedi. Jika universitas seperti Princeton dapat mengajar jutaan mahasiswa, saya kira dunia akan menjadi tempat yang lebih baik,” tutur Ng.

Coursera sedang mencari berbagai cara untuk mendatangkan penghasilan, termasuk meminta mahasiswa membayar sertifikat dan meminta bayaran dari perusahaan-perusahaan yang mencari mahasiswa-mahasiswa terbaik.

Berhadapan dengan kekurangan sumber daya manusia di bidang teknik, banyak perusahaan teknologi telah meminta dikenalkan pada mahasiswa-mahasiswa yang berhasil menyelesaikan kursus daring mereka, ujar Ng. Beberapa mahasiswa memberitahunya bahwa mereka mendapatkan pekerjaan baru setelah memperlihatkan sertifikat Coursera pada perusahaan.

Georgia Institute of Technology berencana membuka lima kursus di Coursera musim gugur ini, ujar Richard DeMillo, profesor sains komputer yang mengepalai Pusat Universitas Abad 21.

“Kita ada di tengah-tengah eksperimen yang berpotensi melakukan terobosan,” ujar DeMillo. “Hal-hal yang sangat besar mungkin akan dihasilkan olehnya.” (AP/Terence Chea)

sumber : http://www.voaindonesia.com

 

 

 

About these ads

About wildanrahmatullah

Seorang guru sekolah dasar yang masih mencoba mencari hakikat dari mengajar dan mendidik yang sebenarnya

Diskusi

One thought on “Kuliah Gratis di Univeritas Luar Negeri

  1. Saya ingin sekali kuliah ke luar negeri khususnya ke Australia, Saya ingin belajar bahasa. Ada gak yang bisa ngasi saran biar dapat gratis tanpa harus pintar dan butuh uang banyak.

    Posted by Muara Fatan | 21 Januari 2013, 11:07

Silakan tulis apa yang anda pikirkan setelah membaca artikel kami

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.251 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: